Tuesday, June 30, 2009

…Bernafas Di Tanah Banjar…

Dikosan kecil yang berukuran sekitar 3x8m ini saya tinggal, kosan yang terbuat dari bahan kayu dan triplex, dindingnya kayu, lantainya juga kayu, pokoknya semua kayu. Kosan ini dibagi menjadi empat ruang yakni sebuah ruang tamu yang sempit, sebuah kamar yang sempit, sebuah dapur yang sempit, dan sebuah lagi kamar mandi yang juga amat sempit. Alamat kosan ini tidak sulit untuk ditemukan bila sewaktu-waktu teman-teman mau datang tuk berkunjung, alamatnya Jl. Kuin Utara, gang Melati (wow…namanya bo) no. 37 Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Gang tersebut tepat di depan pintu masuk sebuah pasar yang kalo tidak salah lagi, namanya Pasar Kalindo (iya..insya Allah saya tidak keliru). Gang ini sangat terkenal dan familiar, tapi saya tidak begitu tahu alasan yang pasti mengapa gang ini begitu familiar ditelinga orang-orang (mungkin karena namanya kah, atau karena banyak artisnya kah, atau mungkin karena banyak ehem…ehemnya kah…atau ada yang lainkah…..wallahu alam bissawab).

Keadaan kos-kosan saya sangat sederhana malah sangat memperihatinkan mungkin, kalau teman-teman masuk pasti kaget, bukan karena mewahnya tapi karena isinya juga sangat memprihatinkan karena tidak ada sama sekali prabot-prabot yang bisa di pamer didalam kosan ini, yang ada hanya beberapa tas pakaian yang terletak di sudut kamar, tumpukan kaleng-kaleng tempat tuk penyimpanan sampel minyak yang tersusun dengan rapi disudut ruang kamar, tumpukan laporan harian hasil survey di ruang tamu, beberapa botol aqua dekat dapur, beberapa sepatu safety yang tersusun di dekat dinding ruang tamu, perlengkapan makan dan minum, kompor, belanga, wajan yang semua tentunya saya letakkan di bagian dapur. Ehhh hampir lupa, sebuah laptop milik saya, merek acer aspire 4710Z yang saya beli 9 Pebruari 2008 saat masih kuliah di Makassar.
Kos-kosan ini ada beberapa petak, kalo tidak salah ada lima petak…..ehh lima atau empat yah…..tunggu saya hitung dulu…..iya tidak keliru lagi ada lima petak. Saya menempati petak yang ke tiga atau petak tengah.

Petak pertama ditempati oleh pasangan manula yang usianya sekitar 60-an, asli jawa, mereka hanya hidup berdua karena semua anak-anaknya sudah pada berkeluarga, sang suami bekerja sebagai tukang urut yang setiap harinya hanya mengendarai sepeda ontel untuk memberikan jasanya pada orang-orang yang memerlukan jasa itu (saluuuttt…masih mau berusaha tuk mencari penghasilan dengan keringat sendiri), sedangkan sang istri hanya seperti ibu-ibu tua pada umumnya, ia tinggal dirumah, melaksanakan pekerjaan rutin yakni membersihkan rumah, memasak, mencuci, menyapu halaman kecil depan petak kosnya, dan merawat beberapa ekor kucing peliharaannya, kadang sekali-kali saya melihat ibu itu memandikan beberapa ekor kucing peliharaannya itu (ibu yang punya jiwa penyayang), dan sepanjang yang saya ketahui ibu itu adalah istri kedua dan sudah kurang lebih enam tahun hidup bersama dalam kasih, cinta dan kesederhanaan. Itu semua saya ketahui karena keluar dari mulut ibu itu sendiri saat kami berbincang-bincang beberapa hari yang lalu di teras kosan ibu tersebut.

Petak kedua ditempati oleh tiga orang mba-mba, iya aku bilang mba-mba karena mereka semua orang jawa, kalau tidak salah asli nganjuk dan solo, samakan dengan asal daerahku, solowesi (hohoho…canda dikit biar nda tegang). Mereka bekerja di sebuah perusahaan yang berada tidak jauh dari kosan ini, nama perusahaannya kalau tidak salah PT. Surya, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kayu yang mempunyai karyawan kurang lebih seribu orang. Sampai sekarang saya tidak tahu nama mba-mba itu, karena saya juga jarang ketemu, kadang kalau mereka pulang kerja saya mau masuk kerja begitupun sebaliknya jadi jarang komunikasi (hal yang seperti ini bisa membuat kesenjangan sosial)

Petak keempat atau satu petak setelah petak saya ditempati oleh seorang bapak dan seorang putrinya bernama Wulan yang usianya sekitar enam atau tujuh tahun dan mempunyai badan yang gemuk tapi wajahnya manis. Mereka hanya hidup berdua dikosan itu, katanya sih beberapa bulan kemarin mereka menempati kosan itu bertiga yakni bersama ibunya. Tapi kata tetangga yang pernah berbincang dengan saya, ibu si Wulan pacaran lagi dengan laki-laki lain (sssttt…jangan bilang-bilang sama orang lain yah) dan sampai sekarang tidak pernah pulang-pulang lagi tuk menjenguk si Wulan karena kata para tetangga lagi, ibu si Wulan sudah menikah dengan pria lain (malang juga nasib si Wulan). Setiap harinya si Wulan dirawat dan diasuh oleh tetangga jika bapaknya pergi kerja, itupun kata tetangga perawatan dan pengsuhan itu tidak geratis alias dibayar yang besar biayanya saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Kadang sekali-kali saya melihat si Wulan dengan bapaknya berkeliling-keliling dengan menggunakan sepeda motor, kadang juga kudengar tertawa terkekeh-kekeh, tapi kadang juga saya mendengar si Wulan menangis karena meminta sesuatu yang bapaknya tidak dapat penuhi. Biasanya kalau saya melihat mereka, saya dengan spontan berdoa dalam hati “semoga saja saya tidak mengalami cobaan hidup seperti ini dan yang lebih parah dari ini…..amin”.

Petak kelima atau petak terakhir ditempati oleh sepasang kakek-nenek dan seorang purinya yang usianya sekitar 30-an. Kakek-Nenek ini juga asli jawa, jadi sama dengan mba-mba yang di petak kedua, cuman kakek-nenek ini sudah lama menetap di Kalimantan, kata si kakek ia pertama kali menginjakkan kaki di pulau Kalimantan pada tahun 60-an. Waktu saya berbincang-bincang dengan si kakek, beliau bercerita sedikit tentang pengalaman hidupnya sebagai seorang yang pernah bekerja sebagai pelaut. Katanya ia sudah beberapa kali berlayar keluar negeri dengan kapalnya. Kakek itu sempat memperlihatkan pada saya fotonya waktu masih tegap, berpakaian pelaut, warna puitih cerah, dan sangat tampan.

Tak terasa sudah hampir dua bulan saya berada dikosan ini, terhitung mulai tanggal 7 Mei 2009, dan baru dua hari saya merasakan empuknya kasur kecil, jujur saja kemarin berminggu minggu kami tidur hanya beralaskan sarung. Bisa kebayang kan??? Dingin, tidak empuk, masuk angin, hmmm…nasib…ya nasib. Namunya semuanya harus dilalui karena ini sudah jalur kehidupanku. Jalani dengan senyum tawa ketabahan karena keyakinanku akan satu hal “Allah dengan pasti akan merubah nasib suatu kaum/seseorang jika ia terus berdoa dan berikhtiar padaNya”
...HIDUP BUKAN PILHAN NAMUN DALAM HIDUP BANYAK PILIHAN...
JANGAN SALAH MEMILIH KARENA SETIAP PILIHAN PUNYA KONSEKUENSI TERSENDIRI….MAKA HANYA ILMULAH JAWABNYA…

No comments: